Penanaman Pohon di Situs Singaperbangsa, Upaya Pelestarian Lingkungan dan Budaya
Pemerintah daerah bersama komunitas lokal kembali melakukan aksi penanaman pohon di wilayah Kota Banjar. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menjaga keberlanjutan ekosistem dan melestarikan sumber daya alam yang ada.
Kegiatan Jumat Menanam yang digelar oleh Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah VII Provinsi Jawa Barat berlangsung di area Situs Singaperbangsa, Kelurahan Karangpanimnal, Kecamatan Purwaharja. Sebanyak 100 bibit pohon dari berbagai jenis tanaman produktif dan konservasi ditanam dalam acara tersebut. Jenis pohon yang ditanam antara lain Alpukat, Picung, Palem, dan Jambe.
Menurut Kepala CDK Wilayah VII, Cucu Andriawanur, pemilihan lokasi Situs Singaperbangsa bukan tanpa alasan. Kawasan ini merupakan lahan konservasi strategis yang berada di tengah Kota Banjar.
“Hari ini kita melaksanakan penanaman di Situs Singaperbangsa. Kurang lebih ada 100 bibit pohon yang ditanam. Ini sangat penting karena kawasan ini merupakan penyangga sumber mata air bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa jika lahan konservasi di tengah kota ini rusak, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
“Lahan konservasi ini harus kita jaga betul. Jika rusak, masyarakat Kota Banjar yang akan menderita. Ini harus menjadi atensi bersama, bukan hanya warga sekitar, tapi seluruh masyarakat Kota Banjar harus peduli menjaga lingkungannya,” terangnya.
Program Jumat Menanam diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menanam pohon. Selain itu, tumbuhan dan pohon yang lebat di area situs diharapkan mampu menjaga ketersediaan air tanah serta mencegah erosi dan bencana alam.
Peran Pegiat Budaya dalam Pelestarian Lingkungan
Selain partisipasi pemerintah, para pegiat budaya juga turut mendukung aksi penanaman pohon di Situs Singaperbangsa. Perwakilan pegiat budaya Kota Banjar, Panio, menyampaikan bahwa langkah ini adalah bentuk nyata pengabdian budaya terhadap alam.
“Salah satu bentuk giat budaya yang nyata adalah melestarikan alam, yaitu menanam dan menjaga lingkungan. Maksud dan tujuan kita di sini adalah menjaga lahan konservasi,” katanya.
Menurut Panio, pemilihan jenis pohon buah hutan bukan tanpa alasan. Saat ini, banyak satwa liar yang mulai turun ke pemukiman warga akibat minimnya ketersediaan makanan di habitat asli mereka.
“Kita menanam pohon buah hutan untuk penyelamatan satwa hutan yang mulai merambah ke masyarakat. Hal ini disebabkan karena di hutan produksi seperti jati tidak ada buah-buahan, sehingga mereka mencari makan ke pemukiman,” tambahnya.
Selain faktor ekosistem, gerakan ini juga bertujuan untuk penyelamatan situs-situs budaya di Kota Banjar. Banyaknya pohon tua di area situs yang mulai rapuh memerlukan regenerasi agar kawasan tersebut tetap terlindungi secara alami.
“Karena pohon-pohon di situs budaya kebanyakan sudah tua, maka semua situs budaya di wilayah Kota Banjar insyaallah akan kita adakan gerakan menanam kembali,” pungkasnya.


